Wayang Kulit sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia
Bicara soal warisan budaya takbenda dari Indonesia, kurang lengkap rasanya jika tidak menyebut wayang kulit. Bagi orang luar Jawa dan luar Indonesia, eksistensinya memang belum sepopuler kain batik. Tapi ternyata, kebudayaan ini tidak kalah unik dan menarik.
Hampir semua daerah di Pulau Jawa dekat dengan pagelaran wayang kulit, termasuk di Jawa Timur, Jawa Tengah, hingga Jawa Barat. Setiap daerah punya garis besar yang mirip, namun dengan berbagai detail berbeda yang berhasil menjadi ciri khas masing-masing.

Sejarah
Penting untuk Anda catat jika sejarah wayang kulit tidak akan bisa dipisahkan dengan seni perwayangan pada umumnya, seperti pada penjelasan berikut!
1. Kemunculan Kesenian Wayang
Jika menilik sejarah wayang, Anda harus kembali ke pemerintahan Airlangga di kerajaan Kahuripan, kira-kira antara tahun 976 hingga 1012. Pada saat itu, para pujangga dan sastrawan mulai menulis cerita-cerita seru seperti Kitab Ramayana Kakawin.
Isi ceritanya tidak jauh berbeda dengan Kitab Ramayana buatan Walmiki, seorang pujangga asal India. Hanya saja, cerita lengkapnya memang bukan hanya hasil saduran, mengingat ada beberapa hal dan falsafah khas masyarakat Jawa di dalam ceritanya.
Sejak saat itu, budaya wayang dengan cerita yang berasal dari kitab-kitab tersebut mulai bermunculan. Pada saat itu, tidak semua orang bisa membaca kitab. Jadi, pemaparan lewat pertujukkan berhasil merebut perhatian masyarakat di semua kalangan.
Cara pertunjukkannya cukup unik, yaitu karena orang yang bercerita (dalang) menggunakan wayang sebagai media ceritanya. Namun orang yang menonton tidak akan melihatnya secara langsung, mengingat dayang menutupinya dengan kelir atau kain.
Itulah asal usul nama “wayang”, karena dalam bahasa Jawa kata tersebut berarti bayangan. Para penonton tidak dapat melihatnya secara langsung, tapi hanya bayangannya saja. Cara penceritaan ini menjadi ciri khas pertunjukkan dan jadi favorit masyarakat.
2. Penggantian Media Wayang
Selama masa penyiaran agama Islam oleh para Wali Songo, ada perubahan pada media wayang. Orang yang pertama kali mengubahnya adalah Kanjeng Sunan Kalijaga, salah satu Wali Songo yang berniat untuk berdakwah melalui media kesenian.
Sebelum ada wayang yang terbuat dari kulit, dulu masyarakat Jawa menyukai Wayang Beber. Pagelaran ini memakai kertas ponoragan atau daluang sebagai media dan gambar sebagai cerita. Hanya saja, melukis di kertas itu haram dalam ajaran Islam.
Karena itu, Sunan Kalijaga memodifikasi budaya ini dan membuat media baru, yaitu kulit. Jika Anda penasaran wayang kulit terbuat dari apa, dulu Sunan Kalijaga membuatnya dari kulit sapi atau kerbau. Bahan masih digunakan dalam pembuatan wayang modern.
Inti ceritanya tidak jauh berbeda dengan cerita wayang klasik, namun ada akulturasi dengan budaya Islam. Sunan Kalijaga bahkan menambahkan beberapa pemeran. Selain pemeran dari Kitab Ramayana, ada juga Semar, Bagong, Petruk, dan Gareng atau Punakawan.
Elemen Pendukung Cerita Wayang
Setelah tahu latar belakang wayang kulit, dari kelahirannya sebagai pertunjukan karya sastra Jawa hingga dakwah Islam, Anda juga harus tahu apa penyempurna pertunjukkannya. Hal ini karena wayang tidak bisa bermain sendiri, sehingga ada para pengiring.
Pada penjelasan di atas Anda sudah tahu mengenai dalang yang bertugas sebagai narator ceritanya. Selain itu, ada juga pesinden yang bertugas menyanyikan tembang dan pemain alat musik untuk memainkan gamelan.
Penutup
Itulah segala hal yang perlu Anda ketahui tentang wayang kulit, sebagai warisan budaya takbenda dari UNESCO. Ada penjelasan tentang sejarah, hingga elemen pendukungnya. Semua elemennya penting untuk menciptakan pertujukkan wayang yang menarik.
You may also like


Keris Nusantara dalam Sejarah dan Nilai Filosofis

Batik Indonesia dan Filosofi Motif Tradisional

